Menyebut pendapatan belasan atau puluhan juta rupiah sebagai double digit memang agak problematik ya. Karena memang ya double digit itu tidak menggambarkan uang rupiah dengan tepat. Misal anda bergaji 17.000.000 rupiah itu sebenarnya 8 digit tapi ya demi kemudahan kita sebut saja double digit. Permasalahan kedua yaitu, double digit itu rangenya dari 10 juta sampai 99 juta, sehingga orang yang gajinya double digit bisa dekat dengan belasan juta tapi juga bisa dekat ke ratusan juta.
Tapi kita jangan terlalu overthinking lah ya. Mencapai penghasilan di atas 10 juta bagi seorang fresh graduate adalah sebuah milestone yang layak diapresiasi. Dalam kasus saya, perlu dirayakan. Saat itu saya adalah lulusan S.Pd. dan penghasilan utama saya hanya dari gaji guru honorer dan menjadi guru les bahasa Inggris. Gaji guru honorer saat itu adalah 450 ribu per bulan, termasuk dianggap tinggi karena saya mengajar di SMK favorit. Pendapatan jadi guru les adalah antara 50-60 ribu setiap pertemuan. Jadi setiap bulan, pendapatan maksimal saya setelah kerja dari pagi sampai malam sebagai guru honorer dan guru les adalah sekitar 3 jutaan. Maksimum 4 jutaan.
Saat itu saya sudah menikah dan istri saya juga masih kuliah. Jadi saya harus menanggung biaya hidup saya, ibu saya, istri saya dan juga biaya pendidikan istri. Tentu pendapatan tersebut harus saya kelola dengan hati-hati dan setiap bulannya, saya masih kesulitan untuk memenuhi segala kebutuhan. Alhasil, kehidupan saya di awal-awal pernikahan sebagai seorang fresh graduate, cukup terseok-seok secara finansial.
Dari dulu saya sadar bahwa cara untuk meningkatkan kekayaan hanya ada tiga cara. Yang pertama adalah menambah penghasilan, kedua mengurangi pengeluaran dan ketiga dengan mengkombinasikan keduanya. Jadi sejak saat itu saya juga berpikir, saya harus berbuat sesuatu untuk meningkatkan penghasilan saya. Paling tidak, memang penghasilan saya harus tembus 10 juta per bulan atau biasa disebut sebagai penghasilan 2 digit. Sayangnya, saat itu saya tidak tahu bagaimana caranya.
Memang dalam belajar sesuatu, kadang kita bisa belajar sendiri tapi kadang harus ada orang yang menuntun kita untuk berbuat lebih baik. Saat itu bulan ketujuh setelah menikah dan saya masih kerja serabutan jadi guru honorer dan guru les. Dari sekian anak yang saya ajar les bahasa Inggris, ada satu anak yang bapaknya adalah wakil manajer keuangan salah satu BUMN. Beliau tanya ke saya, “Lho dik kamu pernah ngajar corporate English? Ngajar di kantor-kantor gitu buat para karyawan?” Saya jujur mengatakan belum pernah.
Saya pikir percakapan itu hanya percakapan biasa saja. Tapi ternyata, Bapak itu serius untuk memfollow up pertanyaan ini. Keesokan harinya, beliau memanggil saya ke kantor beliau. Beliau menyampaikan bahwa kantornya membutuhkan pengajar bahasa Inggris dan saya diminta untuk mengajukan penawaran berupa proposal. Beliau memberi waktu saya satu hari untuk mempersiapkan proposal. Saya siapkan dan saya serahkan ke beliau. Beliau bilang “Ini terlalu murah. Apa kamu tidak menghargai dirimu sendiri?”
Saya kaget bukan kepalang. Saya biasa mengajar privat 50 ribu, dan di proposal saya sudah saya naikkan menjadi 100 ribu per pertemuan dan beliau masih mengatakan masih terlalu murah. Akhirnya saya malah diajari beliau bagaimana cara membuat proposal dengan baik. Beliau menguji coba saya dengan satu cabang perusahaan. Hasilnya baik. Kemudian saya diberikan tanggung jawab dua cabang. Kemudian 8 cabang. Ketika sudah mencapai 8 cabang yang saya ajar, saya sudah kewalahan. Saya minta izin ke beliau untuk merekrut pengajar. Dan saat itulah saya punya perusahaan pertama saya, EFP (English for Professional).
Saat itu saya punya 5 pengajar, dan rata-rata saya rekrut dari teman saya sendiri. Saat itu juga target saya tercapai, untuk mendapatkan pendapatan per bulan di atas 10 juta. Dari pengalaman mengajar di salah satu BUMN itu, kepercayaan diri saya tumbuh. Saya mulai menawarkan jasa saya ke perusahaan swasta, Rumah Sakit dan kantor-kantor lain yang sekiranya membutuhkan in-house training.
Dan begitulah kisah saya, mencapai pendapatan double digit pertama saya. Ada beberapa hal penting yang perlu dicatat untuk menaikkan pendapatan: 1. Pelihara dan tingkatkan network anda (contohnya ketika saya kenal dengan orang tua siswa yang menawari kesempatan bisnis tersebut), 2. jaga kualitas kemampuan kita (saya tidak mungkin ditawari kalau Bapak itu tidak menganggap bagus kemampuan saya), dan 3. jalan menuju kemuliaan bisa datang dari mana saja (contohnya saya yang dibukakan pintu bisnis hanya dari “les-lesan”).
Tetap konsisten menjaga mutu dan jaringan, maka sukses hanya tinggal menunggu waktu saja.
XOXO. Coach Hendi


Tinggalkan Balasan ke Hendi Pratama Batalkan balasan