Maraknya kasus b*ndir yang dilakukan oleh banyak mahasiswa di Indonesia menjadi sebuah red flag bagi kita semua. Entah ingatan saya salah atau ada faktor lainnya yang mempengaruhi, tapi ketika saya cukup yakin ketika saya kuliah dulu, berita b*ndir mahasiswa sangat jarang terdengar. Bahkan tidak terdengar.
Apa yang terjadi saat ini?
Apakah tugas kuliah sekarang lebih berat?
Apakah skripsi menjadi momok yang semakin menakutkan?
Apakah mental remaja sekarang begitu lunak, selunak kapas?
Saya tidak berani menebak-nebak, oleh karena itu kita bahas saja hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kejadian ini. Dan jika memungkinkan, kita hilangkan sama sekali.
Saya dan teman-teman menjadi khawatir, kalau b*ndir ini menjadi trend. Karena beritanya begitu viral dan tampak bahwa para pelaku b*ndir dengan mudahnya mengakhiri nyawa mereka. Kami para pendidik sungguh takut jika b*ndir menjadi sebuah solusi alternatif bagi masalah yang dihadapi mahasiswa. Amit-amit ya. Semoga ini hanya kekhawatiran kami yang berlebihan.
Ada beberapa hal yang kita tidak tahu pastinya. Tapi ada beberapa hal yang hampir pasti.
Krisis kesehatan mental adalah nyata dan terjadi. No debat. No denial.
Mari kita berhenti membanding-bandingkan dengan generasi sebelumnya (walaupun saya baru saja melakukannya di awal tulisan ini). Setiap generasi punya tantangannya masing-masing. Dan tantangan terberat dari generasi ini (Gen Z) adalah kesehatan mental mereka.
Penting untuk kita memahami bagaimana cara kerja mental health dari sudut pandang ilmiah.
Kesehatan mental kita sangat tergantung dengan “sirkuit” yang ada di otak kita. Orang terlahir dengan sirkuit otak yang berbeda-beda. Ada yang mudah bahagia. Ada yang mudah depresi. Ini bawaan lahir dan nyata.
Sayangnya banyak orang yang menyamaratakan kondisi otak ini. Hanya karena kita mudah dibahagiakan oleh hal-hal sederhana seperti “ngopi senja” dan mengucap “Alhamdulillah”, bukan berarati hal ini berlaku untuk setiap orang. Sekali lagi, setiap orang terlahir dengan sirkuit otak yang berbeda.
Kalau anda punya waktu untuk googling beberapa jurnal, anda bisa baca tentang beberapa gen manusia yang mempengaruhi kemungkinan stress berat dan depresi berikut ini: Gen SERT (SLC6A4), Gen BDNF, Gen MAO-A, Gen HPA Axis, dan Gen COMT. Gen-gen tersebut mempengaruhi kecenderungan seseorang mudah depresi atau tidak.
Jadi ketika kita lahir, sesungguhnya kita mendapatkan lotere berupa undian DNA dan sirkuit otak. Ada yang DNA dan sirkuitnya stabil. Ada yang “agak-agak” kurang stabil.
Sayangnya, kita terlalu sering menyederhanakan masalah. Ketika ada orang menunjukkan gejala depresi, kita malah memberikan usulan yang (walaupun niatnya baik) tapi tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Kita sering mengucap
“Banyak-banyak bersyukur donk”
“Cerita aja sama aku sini”
“Berdoa yang banyak dan berserah pada Tuhan”
Semua hal di atas, sangat baik untuk dilakukan. Tapi kemungkinan besar sirkuit otak yang “error” tadi tidak serta merta menjadi baik karena nasehat kita di atas.
Kesehatan mental harus diatasi oleh ahli. Depresi paling manjur diatasi oleh psikolog dan psikiater tergantung pada level berat ringannya. Psikolog akan memandu secara sistematis mencari sebab terjadinya depresi dan psikiater bisa meresepkan obat yang sesuai dengan sirkuit otak yang error tadi.
Teknologi sudah maju dan para peneliti sekarang sudah bisa melihat letak permasalahannya. Ada area otak tertentu yang memang bereaksi berbeda antara orang yang memiliki kecenderungan depresi dan suicidal. Ini tidak bisa diatasi hanya sekadar “banyak banyak bersyukur”

Oleh karena itu, civitas akademika pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam mengatasi depresi dan pencegahan b*ndir.
- Secara sistematis, kita bisa mengetahui permasalahan yang sesungguhnya tentang depresi dan kecenderungan b*ndir. (Misalnya seperti kajian scan otak yang saya sajikan sebelumnya)
- Secara simpatik, tidak melecehkan dan tidak meremehkan orang-orang yang memiliki gejala depresi dan kecenderungan b*ndir.
- Secara aktif, mendorong dan memfasilitas orang-orang yang memiliki gejala tersebut untuk mendapatkan bantuan profesional (psikolog dan psikiater)
Saya memahami bahwa apa yang saya sampaikan di atas memiliki potensi menyinggung pemeluk agama tertentu atau keyakinan tertentu. Saya sama sekali tidak ada maksud seperti itu.
Dalam situasi sulit, sebagai pemeluk agama, selalu berdoa dan memperbanyak bersyukur. Bagi saya pribadi, hal tersebut sangat menenangkan dan meringankan stress saya. Hal ini berlaku bagi banyak orang.
Namun bisa jadi, hal tersebut tidak bisa membantu banyak bagi teman-teman kita yang memiliki gejala depresi dan kecenderungan b*ndir. Hanya tenaga profesional yang bisa menolong mereka. Tugas kita adalah untuk memfasilitasi mereka.
Salam transformasi pendidikan
Dr. Hendi Pratama


Tinggalkan komentar